Tampilkan postingan dengan label Kliping-kliping. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kliping-kliping. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Juni 2012

Perspektif Pers Mahasiswa


Perspektif Pers Mahasiswa
Oleh Adrian Jourdan Muslim
Peminat Kajian Media

     “Reformasi gagal” merupakan saripati sesudah menyaksikan Indonesia di tarikh 2012. Reformasi yang digulirkan mahasiswa sukses mendongkel Soeharto seraya menolak dwifungsi ABRI. Selain itu, reformasi menghasilkan pengembangan otonomi daerah.
     14 tahun berlalu, ternyata reformasi belum mencapai puncak ekspektasi. Reformasi memang telah menentukan arah demokratisasi di Indonesia. Negeri ini begitu progresif dalam mengaplikasikan pengembangan demokrasi.
     Dalam dinamika politik kontemporer, spirit refomasi kehilangan kontrol atas kebijakan publik. Apalagi, negeri sarang koruptor ini banyak dihuni politisi busuk yang sekedar berpikir pragmatis. Orbaisme alias paham Orde Baru malahan turut memperparah keadaan. Akibatnya, oligarki politik Orde Baru menggurita di struktur kekuasaan.
     Kita muak dengan politik Orde Baru yang mengedepankan kekerasan. Di zaman Soeharto, penyelenggara negara tuli terhadap aspirasi rakyat maupun mahasiswa. Bahkan, korupsi, kolusi serta nepotisme marak dipraktekkan.
     Dewasa ini, kita mengharap ada golongan yang bisa membawa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berlabuh di stasiun sejahtera nan damai. Rakyat mendambakan demokrasi mesti finish sembari membawa keutuhan bangsa, keadilan dan kemakmuran rakyat.
     Aktivis penggerak reformasi 98 masih banyak yang lantang. Sebagian lainnya terlibat dalam pemerintahan. Hingga, merepotkan arah reformasi. Realitas tersebut menunjukkan bahwa aktivis reformasi yang masih suci harus bergandeng tangan dengan mahasiswa untuk menata ulang visi optimistis-progresif.
     Mahasiswa sukses menggulingkan rezim otoritarian Orde Baru. Kini, mahasiswa dituntut proaktif mengawal NKRI. Senjata mahasiswa yang ampuh untuk berjuang ialah pers mahasiswa. Media-media kampus menjadi hembusan nafas demi merestorasi NKRI. Pers mahasiswa dibutuhkan guna memicu suasana sekarang demi mencapai martabat serta peradaban.
     Ironis terasa lantaran ketika pers mahasiswa diperlukan, mereka rupanya kekurangan energi. Daya ledak pers mahasiswa makin lemah. Mereka acap menyelenggarakan diskusi. Sementara kinerjanya nihil.
     Pertemuan-pertemuan pers mahasiswa sesungguhnya laksana kata minus makna. Diskusi itu tidak membuahkan hasil. Tiada kebangkitan di kalangan kampus. Isu-isu strategis kalah oleh isu-isu aksesoris.
     “Mahasiswa penulis” malahan kian sulit muncul. Mahasiswa mungkin terlena oleh Facebook, Twitter, Google+, Instagram atau asyik-masyuk googling memelototi Miyabi Ozawa.
     Pada periode ini, momentum bagi pers mahasiswa untuk bangkit. Penerbitan kampus mutlak menggerakkan paket-paket perubahan.

Sukma Lektura
     Di akhir tarikh 80-an, “mahasiswa penulis” didominasi Universitas Hasanuddin. Aspek tersebut dapat dimafhumi karena mahasiswa Unhas sangat banyak. Kala itu, nama semacam Mustam Arif, Shaifuddin Bahrum, Sapri Pamulu berikut Moch Hasymi bergantian menulis di Pedoman Rakyat.
     Menorehkan nama di surat kabar lokal kiranya tak cukup. Sastra Unhas lantas menerbitkan majalah Lektura pada Agustus 1990. Sejak itu, menjamur penerbitan dari fakultas lain di lingkungan Unhas. Channel 9 (Teknik), Ecotrend (Ekonomi), Yudika (Hukum), Sinovia (Kedokteran), Politzer (Fisipol) dan Muwahid (MPM).
     Lektura termasuk primadona. Majalah tersebut mempelopori penerbitan ofset dengan sampul full color. Media kampus yang sebelumnya hanya buletin stensilan, mendadak kuno begitu Lektura terbit secara trendy serta glossy. Isinya pun variatif. Lektura kokoh berkat ditopang Sukma Rasyid, Andi Ilham Paulangi, Nasru Alam Aziz bersama Rahmawaty Syukur. Kuartet ini merupakan sukma Lektura.
     Lektura tergolong eksklusif. Dialog antara pemimpin redaksi Lektura dengan wakil pemred sempat terdengar. Pemred meminta agar penulis opini di Lektura pernah menulis di dua harian yang terbit di Makassar. Setengah percaya bercampur geli, wakil pemred berseru sambil cekikikan: “Jadi untuk menulis di Lektura mesti menulis dulu di dua koran daerah?” Maklumat itu kemudian diberlakukan. Alhasil, seluruh artikel di Lektura diracik oleh penulis tangguh.
     Fenomena paling menonjol dari Lektura yakni sifat berani dan keras. Elemen tersebut yang membuat seorang rektor dari sebuah perguruan tinggi nyaris kasak-kusuk di pengadilan. Ia sebal dirinya diobok-obok. Untung saja semua berita Lektura bukan isapan jempol, bukan dusta atau sekedar cari sensasi.
     Sepak-terjang Lektura akhirnya wassalam dari ranah pers mahasiswa tatkala mengekspos laporan utama Golongan Putih. Reportase Lektura dinilai menghasut serta tendensius di masa Orde Baru. Pada Juli 1992, Departemen Penerangan Provinsi Sulawesi Selatan memberangus Lektura. Dengan demikian, Lektura termasuk sebuah pilar intelektual yang sempat melecehkan Orde Baru. Pembreidelan Lektura sebetulnya menambah energi buat menumbangkan rezim Orde Baru.

Voice of Adab
     Sebelum Lektura dirilis, sebuah buletin di Fakultas Adab UIN Alauddin terbit pada 1988. Namanya Voice of Adab. Buletin yang memiliki artikel inovatif itu rumit bertahan. Sebab, cuma difotokopi. Bila persediaan habis lalu ada yang berniat membeli, mendadak redaktur tergopoh-gopoh pergi memfotokopinya. Bayangkan kalau listrik mati, terpaksa peminatnya batal membeli. Uang yang sudah di tangan redaktur terpaksa dikembalikan lagi ke pembeli. “Daripada menunggu lebih baik pulang!”, umpat konsumen seraya bersungut-sungut karena lelah menanti. Voice of Adab akhirnya mati merana.
     Bagaimana sepatutnya pers mahasiswa supaya dikenang sejarah? Apakah harus mati secara ksatria sebagaimana Lektura yang dibreidel. Pilihan lain adalah tetap eksis kendati kembang-kempis laiknya Voice of Adab.
     Pers mahasiswa seyogianya fokus ke persoalan yang diangkat. Keberanian wajib dikedepankan. Tidak main kucing-kucingan dengan pihak fakultas gara-gara takut diberangus. Instrumen lain yaitu jangan jadi humas rektorat. Resep ini yang dipraktikkan Lektura selama tiga tahun. Lektura selalu fokus, berani sekaligus bukan corong pimpinan universitas.
     Dari pengamatan mengkaji pers mahasiswa, tersembul ihwal krusial yang mesti dilakukan pegiat pers mahasiswa. Tips dan trik guna memacu gairah penerbitan kampus mencakup dua faktor.
     Pertama, saat laporan utama digarap, maka, redaksi mesti meminta pula komentar sejumlah mahasiswa terkait isu yang diangkat. Komentar tersebut lantas disisipkan di akhir laporan utama lengkap dengan foto. Dengan demikian, cover story punya pijakan wacana di tengah mahasiswa. Efek positifnya, media kampus itu bakal dibeli. Maklum, komentar yang dipublikasikan membuat senang mahasiswa bersangkutan.
     Kedua, melibatkan Ketua Himpunan. Ketika mahasiswa baru tiba, jelas bukan ketua senat atau pemimpin redaksi yang berkuasa di sebuah jurusan. Kala itu, yang dipertuan agung tiada lain ketua himpunan. Arkian, untuk memuluskan distribusi media ke mahasiswa baru tentu ketua himpunan elok direkomendasikan sebagai redaktur khusus. Dampaknya jelas bahwa pangsa pasar langsung ada. Pemred bisa tersenyum lebar berkat dana edisi berikutnya telah tersedia.
     Kini, momentum bagi pers mahasiswa untuk kembali bangkit. Isu yang harus disambar ialah reformasi yang macet. Berlapis-lapis problem di seputar reformasi belum tuntas. Padahal, reformasi gigih diperjuangkan aktivis 98 demi memerdekakan Indonesia dari rezim Soeharto. Generasi 98 berhadapan langsung dengan aparat keamanan yang menembakkan peluru tajam. Sekarang, mahasiswa mesti melanjutkan perjuangan aktivis 98 dengan pena lewat pers mahasiswa.

(Cakrawala, Senin, 4 Juni 2012)

Pers Mahasiswa Dituntut Ekspos Isu Sosial




Pers Mahasiswa Dituntut
Ekspos Isu Sosial 
(Peringatan Hari Pers Internasional 3 Mei 2011)

Oleh Adrian Jourdan Muslim
Peminat Fenomena New Media

     Tanpa terasa, Hari Pers Dunia kembali hadir. Hari Pers Internasional tentu hanya berlangsung selama dasawarsa kedua milenium ketiga ini. Aspek itu karena pers alias media cetak makin repot bertahan menghadapi terjangan media online yang real time.
     Gadget ultra-modern serba touch dan perangkat elektronik produksi mutakhir selalu berjalan seiring dengan spirit media. Sebagai contoh ialah pernikahan antara televisi dengan Internet. Televisi tidak lagi pasif merilis peristiwa. Kotak kaca tersebut mulai aktif memanjakan pemirsa berkat dibalut kecepatan koneksi Internet dengan teknologi Wi-MAX atau Long Term Evolution. Di negeri Bang Obama, pelanggan televisi kabel diprediksi segera beralih ke televisi Internet. Amazon Instant Video, Netflix serta Vudu sebagai televisi Internet kelak kebanjiran pelanggan.
     Industri pers senantiasa menyelaraskan diri dengan perkembangan alat komunikasi. Telepon genggam yang dulu cuma mengirim seraya menerima pesan, kini kian canggih. Di periode ini, ponsel tak sekedar menjadi alat komunikasi. Handphone makin memanjakan penggunanya dengan aneka hasrat. Facebook dan Twitter sebagai media sosial juga telah diaplikasikan ke jeroan telepon genggam. Arkian, masyarakat kian terikat sebagai komunitas digital.
     Hari Pers Dunia selalu identik dengan media-media cetak berskala besar. Sementara Pers Mahasiswa jarang didengungkan. Padahal, Pers Mahasiswa merupakan wahana tumbuh-kembang bibit-bibit calon pelaku pers profesional. Rosihan Anwar bertitah bahwa Pers Mahasiswa adalah lahan persemaian (breeding ground) bagi pertumbuhan wartawan profesional.
     Posisi mahasiswa sebagai bagian dari kaum berpendidikan (educated people) berdampak pada Pers Mahasiswa. Pers Mahasiswa dalam kebudayaan literasi merupakan agen pencerahan. Pers Mahasiswa melatih mempraktekkan prinsip obyektivitas. Mereka diarahkan menegakkan akurasi sekaligus prinsip keseimbangan berita. James McCrimmon berwasiat bahwa penulis harus cakap mendayagunakan struktur bahasa serta kosakata.
     Pers Mahasiswa mendidik pula agar menganulir kabar bohong, terlebih fitnah. Para pengasuhnya dilatih berjiwa ksatria, bertanggung jawab dan terbuka. Apalagi, menulis merupakan kegiatan mencatat, menginformasikan serta mensugesti pembaca.
Pers Mahasiswa pada akhirnya berfungsi sebagai saluran ekspresi demi mewadahi kebebasan berpendapat (franc-parler). Parameter itu tiada lain kebebasan akademik yang menjadi karakter komunitas perguruan tinggi. Elemen krusial dari kebebasan tersebut terletak pada tanggung jawab civitas akademika dan masyarakat.

Majalah Lektura
     Di Makassar, Pers Mahasiswa yang tersohor pada tarikh 1990-1992 yakni majalah Lektura. Media ini diawaki oleh Sukma Rasyid, Andi Ilham Paulangi, Nasru Alam Aziz, Rahmawaty Syukur, Mukhlis Amans Hady, Mustam Arif bersama M Nawir.
     Kala itu, Alwy Rachman (PD III Sastra Unhas), Andi Ilham Paulangi (Ketua Senat Sastra) berikut Salahuddin Alam (Ketua BPM Sastra) merasakan riak berupa tuntutan kebutuhan mahasiswa untuk menyalurkan aspirasi. Lektura pun digagas serta diracik. Pada Agustus 1990, Lektura terbit dengan penampilan yang sangat menawan.
     Pada hakikatnya, Lektura (1990-1992) merupakan kelanjutan Lektura (1974-1975) yang diasuh M Dahlan Abubakar, Aminuddin Ram bersama Anwar Ibrahim. Dari serpihan hikayat, Lektura pada 1964-1969, juga pernah terbit dengan pengasuh Prof Dr A Mattulada, Ishak Ngeljaratan dan HD Mangemba.
     Lektura (1990-1992) tertoreh sebagai pionir Pers Mahasiswa di Unhas. Begitu majalah Lektura dirilis, kontan sejumlah fakultas turut menerbitkan tabloid. Sayang bahwa penerbitan dari fakultas lain tidak kokoh. Mereka hanya sekali terbit, sesudah itu tinggal kenangan.
     Lektura tergolong beruntung. Sebab, redaksinya solid, cerdas, berani serta sehati sebagai saudara. Majalah tersebut memegang manifesto untuk melaporkan dan menganalisis informasi demi kepentingan publik. Lektura menggali bahan yang tampak samar-samar di permukaan.
     Lektura menjadi buah bibir karena punya saraf keberanian buat mengungkap suatu keborokan. Beberapa pihak kemudian resah oleh sikap keras Lektura. Bulan madu Lektura sebagai media alternatif di era Orde Baru cuma berlangsung dua tahun.
     Lektura menemui ajal tatkala menurunkan laporan utama tentang Golongan Putih (Golput). Isu Golput yang diangkat dianggap bisa mengganggu stabilitas serta keamanan. Apalagi, Pemilu 1992 tinggal menghitung hari. Departemen Penerangan Sulawesi Selatan akhirnya melarang Lektura diterbitkan dan diedarkan. Lektura pun tertoreh sebagai satu-satunya Pers Mahasiswa di Indonesia Timur yang dibreidel rezim Orde Baru.
     Di masa sekarang, Pers Mahasiswa sulit mengikuti jejak Lektura. Pasalnya, zaman telah berubah. Dulu, keterbukaan politik dikekang-erat. Media mainstream pun teramat hati-hati. Bahkan, mengambil sikap tiarap ketika menurunkan berita perihal politik.
Kini, demokrasi mulai bersemi di Indonesia. Politik tak lagi tabu didiskusikan. Hatta, Pers Mahasiswa pasti tidak pas jika berniat mengungkit isu-isu politik. Kuno rasanya bila Pers Mahasiswa tergiur mengekspos politik kontemporer Indonesia.

Isu Sosial
     Dewasa ini, tanggung jawab Pers Mahasiswa yaitu mempublikasikan persoalan-persoalan sosial. Kultur Indonesia tercerabut akibat perkara sosial yang menghantam masyarakat. Isu-isu sosial yang marak di sekitar kita ialah korupsi, seks bebas, suka bohong, tawuran, penyalahgunaan narkoba maupun ekologi.
     Di masa sekarang, Pers Mahasiswa dituntut mengekspos isu-isu sosial. Kecenderungan yang kini terpampang adalah industri pers terbagi dua. Media cetak seolah seragam mewartakan dinamika politik. Sedangkan media elektronik ketagihan dengan infotainment. Keriuhan televisi hanya seputar sinetron, kuis serta gosip seleb.
     Media cetak dan elektronik seolah lupa dengan isu-isu sosial. Dengan demikian, peluang Pers Mahasiswa terbuka lebar untuk turut andil dalam pembangunan Indonesia. Soalnya, mereka dapat menggarap isu-isu sosial yang ditinggalkan oleh media raksasa.
     Media cetak serta elektronik selama ini rumit diandalkan lantaran segelintir industri pers tak independen dari politik. Akibatnya, rakyat muak dengan ocehan tidak berpangkal para politisi. Tamsil terbaik yakni lumpur panas Lapindo. Sampai sekarang sesudah lima tahun Sidoarjo digenangi lumpur, kita masih geleng-geleng kepala sembari mengelus dada. Saudara setanah air dari Sidoarjo masih banyak yang terkatung-katung. Ganti rugi seret. Korporasi pers kehilangan peran sebagai pengawas lingkungan (surveillance of environment).
     Lumpur Lapindo menjadi sebuah lahan bagi Pers Mahasiswa. Para pengasuh media-media kampus wajib menginformasikan kalau ada rasa keadilan yang dilecehkan. Pers Mahasiswa mesti garang berkomentar bahwa masalah ekologi disepelekan gara-gara diperbudak nafsu serakah.
     Di Hari Pers Internasional ini, kita menanti Pers Mahasiswa kembali menggelegak. Awak Pers Mahasiswa harus lantang mengentas isu-isu sosial. Tulis-menulis dengan segala problematikanya di kalangan mahasiswa mutlak digelorakan. Maklum, “mahasiswa penulis” merupakan insan terbaik suatu perguruan tinggi.
     Era media sosial ini menjadi momentum bagi Pers Mahasiswa untuk bangkit supaya tak terkucil dari khalayak. Media kampus mesti segera berbenah diri untuk tampil dengan ciri khas mahasiswa yang obyektif, analitis, kritis dan kaya ide. Bersabda Pramoedya Ananta Toer: “Orang boleh pintar setinggi langit, namun, selama tidak menulis niscaya ia dilupakan sejarah”

(Fajar, 3 Mei 2011)

Tribun Timur dan Mahasiswa


Tribun Timur dan Mahasiswa
Oleh Adrian Jourdan Muslim
Kolektor Media serta Pemerhati Pers

      Tribun Timur telah mengarungi kurun waktu enam tahun. Suatu umur yang masih teramat belia. Dari asumsi pribadi, saya melihat tarikh 2010 merupakan tahun terberat Tribun Timur.
      Media ini seolah tidak seriuh lagi seperti sebelumnya. Indikasi ini bisa menghambat laju perkembangan Tribun Timur guna menorehkan diri sebagai brand religion. Di Hari Pers Nasional yang bersamaan Ulang Tahun ke-7 Tribun Timur, saya punya sejumput asa untuk media ini.
      Pada 1990-an, paman Tribun Timur yang bernama Surya, begitu akrab dengan mahasiswa. Surya terbitan Kompas-Gramedia di Surabaya memiliki Kolom Komentar yang mayoritas diisi tulisan mahasiswa. Pada halaman Opini, tersaji Salam Surya (tajuk rencana), dua opini, sederet Surat Pembaca dan Mimbar Demokrasi (berisi enam foto pembaca yang diminta argumentasinya perihal suatu masalah). Di halaman itu tertera pula satu atau dua Kolom Komentar. Mahasiswa acap menjadikan Kolom Komentar sebagai wadah polemik.
      Tribun Timur layak mengadopsi Kolom Komentar harian Surya. Struktur tersebut untuk mendekatkan Tribun Timur dengan mahasiswa. Apalagi, ide mahasiswa kerap tak kalah apik dengan para seniornya dari jajaran S2 atau S3.
      Hambatan yang mengurangi keindahan artikel mahasiswa yaitu terjebak dalam alur yang bertele-tele. Selain itu, kalimatnya panjang sekaligus minim titik. Padahal, tanda titik tidak dibeli. Tersedia berapa saja yang dibutuhkan secara gratis. Dengan kehadiran Kolom Komentar yang terbatas ruangnya, maka, mahasiswa dapat belajar menulis secara ringkas serta bernas.
      Saban waktu, senantiasa muncul mahasiswa yang berambisi menulis di Tribun Timur. Mereka berhasrat mengaktualisasikan simbol status dan ekspresi identitas. Problem muncul lantaran penulis di Tribun Timur diisi oleh individu mapan di bidang intelektualitas. Di samping itu, mereka punya nama besar sebagai cerdik-pandai dengan analisis prima. Hingga, penulis baru kehilangan nyali untuk bersaing. Mahasiswa pun repot membuat media. Pasalnya, dananya tak sedikit.
      Pada 1990-1992, media mahasiswa yang elegan adalah majalah LEKTURA terbitan Sastra Unhas. LEKTURA diawaki oleh Andi Ilham Paulangi, Mustam Arif, Nasru Alam Aziz, Rahmawati Syukur bersama Sukma Rasyid (deretan nama redaksi LEKTURA ini sesuai urutan abjab). Sepak-terjang LEKTURA akhirnya berakhir gara-gara doyan melansir kritik pedas.

Seni-Budaya
      Saya mungkin pelanggan pertama harian Surya serta Tribun Timur di Makassar. Saya mengoleksi Tribun Timur termasuk edisi 9 Februari 2004. Koleksi tersebut saya simpan bersama Tempo edisi pertama 1971 di La Bibliotheque Privee (perpustakaan pribadi).  Aneka harian dan majalah saya koleksi sebagai bentuk kecintaan terhadap media, khususnya pers mahasiswa.
      Di Hari Pers Nasional ini, terbersit di pikiran tulisan-tulisan rekan mahasiswa 15 tahun sebelum Tribun Timur terbit. Saya yakin Tribun Timur bisa menghidupkan kembali tradisi kritis mahasiswa lewat jurnalistik. Apalagi, gaya hidup mahasiswa di Makassar belakangan ini yakni senang online, membaca koran lokal sembari menyimak isu politik. Substansi itu selaras dengan konsumen internet di Indonesia yang mencapai 40 juta.
      Kolom Komentar ala harian Surya merupakan satu metode untuk terus mengibarkan Tribun Timur di era digital (2010-2020). Kompetisi antar-media terus berkecamuk. Siapa jeli memaksimalkan satu celah, berarti ia berpeluang mendulang kejayaan. Siapa lengah serta kehilangan fokus, niscaya ia tersisih dari gerak dinamis new media.
      Anatomi new media ialah pers konvensional berkolaborasi dengan jejaring sosial dunia maya. Facebook dan Twitter, misalnya, sudah mewabah di kalangan mahasiswa. Di Indonesia, pengguna Facebook sekitar 31 juta. Sedangkan Twitter delapan juta.
      Dewasa ini, segenap media berlomba meracik gagasan agar tidak tergilas oleh internet yang serba gratis, cepat serta beragam. Media mewarnai bermacam rupa rubriknya supaya pembaca tetap setia. Semua diberi gincu agar berlabel visi milenium. Eksplorasi penonjolan diri digagas demi memuaskan pembaca.
      Kompas yang diklaim sebagai the great, juga tiada henti berproses menata diri. Kalau Kompas yang merupakan Paus Koran Indonesia terus berbenah, maka, surat kabar dari kasta penguasa lokal pasti wajib pula menata diri.
      Selama menikmati Tribun Timur, saya terkadang heran. Mengapa media ini tak memiliki rubrik seni-budaya. Padahal, manusia merupakan konsumen kultural. Biarpun selera pribadi sarat aura Facebook dan Twitter, namun, mahakarya artistik seni-budaya tetap bergelora dalam dada.
      Seni-budaya nihil di Tribun Timur. Sementara gadget ultra-mutakhir berdesing-desing dipropagandakan bak rentetan senapan mesin. Walhasil, mendorong sifat konsumtivisme masyarakat. Padahal, kemiskinan di negara ini makin hari kian menganga. Di satu sisi kita diingatkan berhemat. Di lain kesempatan, Tribun Timur membuai dengan warta seputar gadget produksi terbaru.

Sinergi Spirit
      Di masjid maupun pengajian, umat dilarang bergosip. Tribun Timur ternyata melampirkan isu-isu sekitar seleb dengan foto warna dalam ukuran besar.
      Saya percaya jika rubrik artis di Tribun Timur yang provokatif merupakan bentuk penghargaan kepada pembaca wanita serta remaja putri. Bila rubrik tersebut untuk memuaskan satu kelompok pembaca, berarti Tribun Timur juga mutlak merangkul mahasiswa dan pencinta seni.
      Sebagai media yang terus berkembang, Tribun Timur harus berpedoman pada semboyan Mousquetaire (pengawal Raja Perancis): “All for one and one for all”.
      Orang cuma membeli Tribun Timur untuk merasa cukup. Maklum, Tribun Timur mencakup banyak aspek. Tulisan mahasiswa serta esai budaya pun tersedia. All for one and one for all inilah sebenarnya inti “spirit baru Makassar”. Semboyan Tribun Timur itu tidak memenuhi kriteria sebagai sebuah “semangat” kalau hanya gosip dan gadget dikedepankan. Sebab, tak mencakup seluruh elemen pembaca.
      Jika all for one and one for all bersinergi dengan “spirit baru Makassar”, niscaya brand religion dapat diraih Tribun Timur. Brand Religion merupakan derajat tertinggi suatu merek. The Washington Post, The New York Times, USA Today, Le Monde, Le Figaro atau The Sun tiada lain koran yang telah mencapai level brand religion. Berita-beritanya diimani oleh khalayak. International Herald Tribune, umpamanya, sudah menjadi ideologi bagi pembaca. Kabar yang dirilis begitu dipercaya. Opininya menjadi acuan karena diyakini berbobot orisinal.
      Akhir kata, semoga Tribun Timur sukses selalu. Tiada yang lebih menyenangkan kecuali menatap keberhasilan maksimal. Selamat Ulang Tahun, mudah-mudahan tetap gilang-gemilang menapak usia selanjutnya.

(Tribun Timur, 9 Februari 2011)

Rabu, 30 November 2011

Aneka Kliping



Pers Mahasiswa Dituntut
Ekspos Isu Sosial 

(Peringatan Hari Pers Internasional 3 Mei 2011)
Oleh Adrian Jourdan Muslim
Peminat Fenomena New Media

     Tanpa terasa, Hari Pers Dunia kembali hadir. Hari Pers Internasional tentu hanya berlangsung selama dasawarsa kedua milenium ketiga ini. Aspek itu karena pers alias media cetak makin repot bertahan menghadapi terjangan media online yang real time.
     Gadget ultra-modern serba touch dan perangkat elektronik produksi mutakhir selalu berjalan seiring dengan spirit media. Sebagai contoh ialah pernikahan antara televisi dengan Internet. Televisi tidak lagi pasif merilis peristiwa. Kotak kaca tersebut mulai aktif memanjakan pemirsa berkat dibalut kecepatan koneksi Internet dengan teknologi Wi-MAX atau Long Term Evolution. Di negeri Bang Obama, pelanggan televisi kabel diprediksi segera beralih ke televisi Internet. Amazon Instant Video, Netflix serta Vudu sebagai televisi Internet kelak kebanjiran pelanggan.
     Industri pers senantiasa menyelaraskan diri dengan perkembangan alat komunikasi. Telepon genggam yang dulu cuma mengirim seraya menerima pesan, kini kian canggih. Di periode ini, ponsel tak sekedar menjadi alat komunikasi. Handphone makin memanjakan penggunanya dengan aneka hasrat. Facebook dan Twitter sebagai media sosial juga telah diaplikasikan ke jeroan telepon genggam. Arkian, masyarakat kian terikat sebagai komunitas digital.
     Hari Pers Dunia selalu identik dengan media-media cetak berskala besar. Sementara Pers Mahasiswa jarang didengungkan. Padahal, Pers Mahasiswa merupakan wahana tumbuh-kembang bibit-bibit calon pelaku pers profesional. Rosihan Anwar bertitah bahwa Pers Mahasiswa adalah lahan persemaian (breeding ground) bagi pertumbuhan wartawan profesional.
     Posisi mahasiswa sebagai bagian dari kaum berpendidikan (educated people) berdampak pada Pers Mahasiswa. Pers Mahasiswa dalam kebudayaan literasi merupakan agen pencerahan. Pers Mahasiswa melatih mempraktekkan prinsip obyektivitas. Mereka diarahkan menegakkan akurasi sekaligus prinsip keseimbangan berita. James McCrimmon berwasiat bahwa penulis harus cakap mendayagunakan struktur bahasa serta kosakata.
     Pers Mahasiswa mendidik pula agar menganulir kabar bohong, terlebih fitnah. Para pengasuhnya dilatih berjiwa ksatria, bertanggung jawab dan terbuka. Apalagi, menulis merupakan kegiatan mencatat, menginformasikan serta mensugesti pembaca.
Pers Mahasiswa pada akhirnya berfungsi sebagai saluran ekspresi demi mewadahi kebebasan berpendapat (franc-parler). Parameter itu tiada lain kebebasan akademik yang menjadi karakter komunitas perguruan tinggi. Elemen krusial dari kebebasan tersebut terletak pada tanggung jawab civitas akademika dan masyarakat.

Majalah Lektura
     Di Makassar, Pers Mahasiswa yang tersohor pada tarikh 1990-1992 yakni majalah Lektura. Media ini diawaki oleh Sukma Rasyid, Andi Ilham Paulangi, Nasru Alam Aziz, Rahmawaty Syukur, Mukhlis Amans Hady, Mustam Arif bersama M Nawir.
     Kala itu, Alwy Rachman (PD III Sastra Unhas), Andi Ilham Paulangi (Ketua Senat Sastra) berikut Salahuddin Alam (Ketua BPM Sastra) merasakan riak berupa tuntutan kebutuhan mahasiswa untuk menyalurkan aspirasi. Lektura pun digagas serta diracik. Pada Agustus 1990, Lektura terbit dengan penampilan yang sangat menawan.
     Pada hakikatnya, Lektura (1990-1992) merupakan kelanjutan Lektura (1974-1975) yang diasuh M Dahlan Abubakar, Aminuddin Ram bersama Anwar Ibrahim. Dari serpihan hikayat, Lektura pada 1964-1969, juga pernah terbit dengan pengasuh Prof Dr A Mattulada, Ishak Ngeljaratan dan HD Mangemba.
     Lektura (1990-1992) tertoreh sebagai pionir Pers Mahasiswa di Unhas. Begitu majalah Lektura dirilis, kontan sejumlah fakultas turut menerbitkan tabloid. Sayang bahwa penerbitan dari fakultas lain tidak kokoh. Mereka hanya sekali terbit, sesudah itu tinggal kenangan.
     Lektura tergolong beruntung. Sebab, redaksinya solid, cerdas, berani serta sehati sebagai saudara. Majalah tersebut memegang manifesto untuk melaporkan dan menganalisis informasi demi kepentingan publik. Lektura menggali bahan yang tampak samar-samar di permukaan.
     Lektura menjadi buah bibir karena punya saraf keberanian buat mengungkap suatu keborokan. Beberapa pihak kemudian resah oleh sikap keras Lektura. Bulan madu Lektura sebagai media alternatif di era Orde Baru cuma berlangsung dua tahun.
     Lektura menemui ajal tatkala menurunkan laporan utama tentang Golongan Putih (Golput). Isu Golput yang diangkat dianggap bisa mengganggu stabilitas serta keamanan. Apalagi, Pemilu 1992 tinggal menghitung hari. Departemen Penerangan Sulawesi Selatan akhirnya melarang Lektura diterbitkan dan diedarkan. Lektura pun tertoreh sebagai satu-satunya Pers Mahasiswa di Indonesia Timur yang dibreidel rezim Orde Baru.
     Di masa sekarang, Pers Mahasiswa sulit mengikuti jejak Lektura. Pasalnya, zaman telah berubah. Dulu, keterbukaan politik dikekang-erat. Media mainstream pun teramat hati-hati. Bahkan, mengambil sikap tiarap ketika menurunkan berita perihal politik.
Kini, demokrasi mulai bersemi di Indonesia. Politik tak lagi tabu didiskusikan. Hatta, Pers Mahasiswa pasti tidak pas jika berniat mengungkit isu-isu politik. Kuno rasanya bila Pers Mahasiswa tergiur mengekspos politik kontemporer Indonesia.

Isu Sosial
     Dewasa ini, tanggung jawab Pers Mahasiswa yaitu mempublikasikan persoalan-persoalan sosial. Kultur Indonesia tercerabut akibat perkara sosial yang menghantam masyarakat. Isu-isu sosial yang marak di sekitar kita ialah korupsi, seks bebas, suka bohong, tawuran, penyalahgunaan narkoba maupun ekologi.
     Di masa sekarang, Pers Mahasiswa dituntut mengekspos isu-isu sosial. Kecenderungan yang kini terpampang adalah industri pers terbagi dua. Media cetak seolah seragam mewartakan dinamika politik. Sedangkan media elektronik ketagihan dengan infotainment. Keriuhan televisi hanya seputar sinetron, kuis serta gosip seleb.
     Media cetak dan elektronik seolah lupa dengan isu-isu sosial. Dengan demikian, peluang Pers Mahasiswa terbuka lebar untuk turut andil dalam pembangunan Indonesia. Soalnya, mereka dapat menggarap isu-isu sosial yang ditinggalkan oleh media raksasa.
     Media cetak serta elektronik selama ini rumit diandalkan lantaran segelintir industri pers tak independen dari politik. Akibatnya, rakyat muak dengan ocehan tidak berpangkal para politisi. Tamsil terbaik yakni lumpur panas Lapindo. Sampai sekarang sesudah lima tahun Sidoarjo digenangi lumpur, kita masih geleng-geleng kepala sembari mengelus dada. Saudara setanah air dari Sidoarjo masih banyak yang terkatung-katung. Ganti rugi seret. Korporasi pers kehilangan peran sebagai pengawas lingkungan (surveillance of environment).
     Lumpur Lapindo menjadi sebuah lahan bagi Pers Mahasiswa. Para pengasuh media-media kampus wajib menginformasikan kalau ada rasa keadilan yang dilecehkan. Pers Mahasiswa mesti garang berkomentar bahwa masalah ekologi disepelekan gara-gara diperbudak nafsu serakah.
     Di Hari Pers Internasional ini, kita menanti Pers Mahasiswa kembali menggelegak. Awak Pers Mahasiswa harus lantang mengentas isu-isu sosial. Tulis-menulis dengan segala problematikanya di kalangan mahasiswa mutlak digelorakan. Maklum, “mahasiswa penulis” merupakan insan terbaik suatu perguruan tinggi.
     Era media sosial ini menjadi momentum bagi Pers Mahasiswa untuk bangkit supaya tak terkucil dari khalayak. Media kampus mesti segera berbenah diri untuk tampil dengan ciri khas mahasiswa yang obyektif, analitis, kritis dan kaya ide. Bersabda Pramoedya Ananta Toer: “Orang boleh pintar setinggi langit, namun, selama tidak menulis niscaya ia dilupakan sejarah”

(Fajar, 3 Mei 2011)




Entri Populer

Pengikut

Wal-Mart.com USA, LLC
Lazada Indonesia
Wal-Mart.com USA, LLC
2000 Islamic Products from simplyislam.com
Wal-Mart.com USA, LLC
Gearbest  promotion
Islamic Toys and Games
Wal-Mart.com USA, LLC
Wal-Mart.com USA, LLC
Wal-Mart.com USA, LLC
Islamic drop ship service dropship
Win Digital Quran Pen reader Competition
islamic discount vouchers
islamic canvas art
Wal-Mart.com USA, LLC